UncategorizedPerbedaan DTH Drilling dan TOP Hammer Drilling

July 9, 2021by XCMG Indodrill0

DTH drilling atau pengeboran DTH adalah proses pengeboran menggunakan palu pengeboran di bawah string bor. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh 3 elemen sebagai lubang pengeboran yaitu pemuatan bit, udara dan rotasi.

Elemen aktif tersebut bergabung menjadi lebih efisien dalam menghancurkan batu. Saat proses pengeboran tentu akan ada kendala seperti batuan besar maupun padatan lainnya. Sehingga dengan sistem drilling prosesnya lebih mudah.

Saat tali bor sedang berputar secara perlahan, palu bor akan dipaksa masuk beberapa kali hingga dapat menembusnya. Penggunaan jenis DTH drilling ini sering dipakai oleh industri pertambangan dan lainnya.

Bahkan sering digunakan untuk pembuatan sumur, industri minyak ataupun gas. Menggunakan alat canggih tersebut lebih memudahkan apalagi kontur tanah yang berbatu. Ia juga lebih unggul dibandingkan dengan top hammer.

DTH lebih unggul terutama pada pengeboran lebih besar dan dalam. Selain itu untuk lubang yang seharusnya dilakukan adalah memiliki diameter 4 hingga 10 inchi. Tekanan tidak turun walaupun semakin dalam.

Palu DTH sendiri menggunakan tenaga pneumatik, dengan udara terkompresi yang mendorongnya ke depan untuk dapat menabrak dan menembus batu. Udara terkompresi juga akan mengalir pada mata bor ke dalam lubang.

Mata bor tersebut akan masuk ke dalam lubang kemudian akan membuang serpihan dan debu keluar lubang. Selain itu menggunakan DTH tidak menimbulkan kebisingan seperti mesin pada umumnya, sehingga tidak mempengaruhi lingkungan.

Perbedaan Pengeboran DTH dan Top Hammer

Menggunakan DTH drilling lebih unggul dibandingkan top hammer. Apalagi DTH bisa digunakan pada industri baik minyak pertambangan. Walaupun cara kerjanya sama, akan tetapi gaya impak berbeda.

Selain itu pada DTH ini memiliki bor palu dengan diameter lubangnya kurang lebih 127 mm. Sedangkan untuk kedalaman lubangnya tidak lebih 20m. Setelah pengeboran mencapai 15m maka efisiensinya lebih tinggi.

Efisiensi pengeboran untuk palu atas akan relatif tinggi. Rif pengeboran atau borehole memiliki diameter sekitar 105 mm ataupun lebih. Kedalaman lubangnya berkisar 10-45 m juga efisiensi palu bawah lubang tinggi.

Sehingga lubang yang di bor menggunakan DHT akan lebih lurus. Sedangkan jika rig dapat menggunakan operator komputer, maka tentunya lubang jauh lebih akurat. Ada kemungkinan untuk membuat lubang secara vertikal.

Kemudian untuk rif pengeboran hidrolik berskala besar biasanya dipakai pada industri pertambangan. Biasanya dipakai pada bumi dan batu bekerja. Kemudian mesin bor juga kompresor udaranya dipisah oleh bukaan sekitar 115m.

Keuntungan menggunakan tipe split ini yatu harga relatif lebih murah. Selanjutnya beberapa proyek pekerjaan tanah juga tidak sepenuhnya menyebabkan senjata yang menanjak. Sehingga sulit digunakan untuk jalan yang tidak rata.

Untuk itu apabila tidak ada alat untuk memperbaiki jalannya maka rig pengeboran dengan skala besar tidak dapat dilewati. Untuk rig split yang relatif kecil lebih nyaman. Berbeda dengan kompresor rig hammer.

Untuk hammer memakai kompresor tekanan sedang atau rendah. Walaupun sudah menggunakan latihan batu. Rig hammer hanya bisa memecahkan batu dengan kekerasannya 200 Mpa, sehingga jika terlalu keras tidak bisa digunakan.

DTH Drilling Cocok di Pertambangan

Menggunakan jenis DTH sesuai digunakan di daerah pertambangan dikarenakan memiliki daya tekanan yang tinggi dibandingkan rig hammer. Apalagi pada metode down the hole ini bisa memecahkan batu dengan kekerasan diatas 200Mpa.

Top hammer ataupun DTH digunakan pada daerah tambang yang berbeda. sehingga Anda jangan sampai salah pilih, tentu akan sangat merugikan. Sehingga apabila menggunakan hammer pastikan bahwa batuan kurang dari 200Mpa.

Sedangkan jika Anda memilih DTH maka jangan sampai tekanannya di bawah dari 200 Mpa. Karena tentu tidak hanya membuang bahan bakar, akan tetapi juga efisiensinya menjadi rendah.

Hal tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada mesin mata bor. Hal tersebut karena disebabkan oleh piston yang memiliki gerakan submersible pada bawah tanah. Karena batuannya terlalu lunak.

Selanjutnya bor tersebut akan sedikit melompat saat sedang operasionalnya. Oleh sebab itu efisiensi slagging juga pengeboran sangat mempengaruhi. Hal tersebut juga akan membuang gas dan mengakibatkan hilangnya energi.

Oleh karena itu, jangan sampai salah pilih, Anda harus tahu batuan yang akan digunakan. Sehingga tidak hanya membuang energi, dan dapat memperlancar pekerjaan baik memakai DTH drilling atau Top hammer. XCMG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *